Oleh : Muhammad Syarif*
Gendang
Ikrar Politik Damai Aceh telah di konsensuskan, Aula Polda Aceh, Jum`at 7
Februari 2014. Seluruh partai politik peserta pemilu baik nasional maupun lokal
sepakat mendeklarasikan politik damai di Aceh. hanya Partai PNA yang absen pada
saat deklarasi tersebut. Tentunya ketidak hadiran PNA bukan berarti tidak
setuju dengan Politik Damai, akan tetapi karena kecewa kepada Aparat Penegak
hukum serta adanya kerisauan di lapangan “deklarasi pemilu damai” tidak
berimplikasi pada tataran empiris.
Faktanya
kegaduan politik terus terjadi, menurut Azwir Nazar (alumni Magister Ilmu
Politik Universitas Indonesia) Aceh menuju “kesakitan politik”. Iklim politik
Aceh menjelang pemilu legislatif 9 April 2014 tidak sehat. Prilaku politik yang
tidak sehat terus menular pada beberapa Kabupaten/Kota di Aceh, Teror Bom,
Pembakaran Mobil Parlok/Parnas, Perkelahian hingga pembuhan yang berakhir
tewasnya salah seorang Kader Parlok.
Disamping
itu pula statmen petinggi partai politik lokal (Parlok) terhadap lawan
politiknya semakin hari-semakin tajam, meskipun dulunya sang petinggi Parlok
tersebut juga karib alias sahabat dekat pada saat Aceh bergejolak yang kini
pecah kongsi. Maka wajar kalau adagium politik; tidak ada kawan abadi yang ada
kepentingan sejati. Disaat kepentingannya berbeda maka kawanpun menjadi musuh
bubuyutan, inilah potret politik.
Sejatinya
para petinggi Parpol baik lokal maupun nasional harus benar-benar menjadi
tauladan sekaligus guru politik yang
santun bagi konstituennya. Bukankah Politik itu adalah seni, strategi
atau cara memperoleh kekuasaan. Maka dari itu politisi harus menjadi sosok
insan yang santun tutur bahasanya, baik prilakunya dan istiqamah antara ucapan
dengan perbuatan.
Jumat,
28 Februari 2014 virus teror politik menyebar pada Wilayah Pantai Barat
Selatan. Kali ini korbannya Caleg Partai
Damai Aceh (PDA ). Mobil milik Tgk., Razuan dikabar oleh orang tak bertanggung
jawaban (OTB). Tentu masyarakat dibuat bingung siapa sosok OTB itu, saingan
politikkah, kader parnas kah atawa kader Parlok. Teka-teki itu pu mencul dari
mulut kemulut. Memang tensi poltik akhir-akhir ini memanas di Aceh.
Awal
Maret 2014 lakon kekerasan politik terjadi lagi, kali ini Kabupaten Bireun.
Seorang Anggota Satuan Tugas (Satgas) Partai Aceh (PA), Taufik Alias Banggala
di bacok dibeberapa bagian tubuhnya setelah terlibat bentrok fisik dengan
kelompok Banser Rakyat Aceh. Motifnya belum pasti, akan tetapi menurut Muzakkir
Zulkifli (Sekretaris DPW PA Bireun) diduga masalah keluarga. (Sumber Harian Serambi
Indonesia, 2/3/2014).
Tentunya
selaku masyarakat Aceh berharap agar segala kekerasan dalam bentuk apapun harus
dihentikan di Bumi Serambi Mekkah ini. Ikrar Politik Damai, harus benar-benar
aplikatif dilapangan. Petinggi Partai Politik baik Partai Nasional maupun
Partai Lokal harus benar-benar aktif menyuarakan kepada kadernya agar
senantiasa menjaga kedamaian Aceh. Damai adalah harga mati, ini sesuai dengan
semangat MoU Helsinky.
Saatnya
rakyat Aceh jangan terprovokasi dengan lakon politisi, kita harus bersatu
melawan kezaliman dan intimidasi terhadap pihak-pihak yang mengotori bumi Aceh.
Stop kekerasan, pembunuhan dan
sikap-sikap yang merusak citra Aceh dimata luar. Buktikan kita adalah Bangsa
yang bermartabat. Semoga kekerasan politik tidak lagi terulang. Wallahu `alam
binshawab.
*
Direktur Aceh Research Institute

Tidak ada komentar:
Posting Komentar